oleh

Kebodohan yang Perlu Dihindari

-Inspirasi, News-99 views

Diceritakan, ada seorang murid baru yang disuruh gurunya untuk mengambil air di dekat sebuah sumur yang letaknya tidak jauh dari sekolah.

Si murid pun bergegas menuju sumur tersebut untuk melaksanakan tugas yang diberikan sang guru. Tanpa berfikir panjang atau mempelajari situasi di sekitar sumur, pikiran dan langkah kakinya langsung tertuju pada sumur dan ember untuk menimba air.

“Nah.. ini dia ember dan talinya,” tandasnya.

Dengan gembira ia pun mulai memegang tali dan mengayunkan ember ke dalam sumur. Tetapi sampai tali yang dipegang di tangan hampir tiba di ujung, dirasakan embernya tetap kosong, tidak juga terisi air, bahkan tidak menyentuh air di dalam sumur. Maka ia terus berusaha lebih keras.

tubuhnya ikut dilengkungkan ke bawah seraya metanya menatap nanar berusaha menembus kegelapan sumur sambil tangannya sibuk mengayunkan ember.

Karena dalamnya sumur, tetap saja tidak ada apa pu yang tersebut ember di bawah sana. Panas terik dan usaha sepenuh hati yang dilakukan berkali-kali membuat keringat mengucur deras membahasi tubuh sang murid.

Ia pun mulai merasa jengkel karena usahanya berkali-kali tidak membuahkan hasil yang diharapkan, yang pada akhirnya membuat emosinya memuncak.

Dari kejauhan, sang guru menyaksikan si murid. Dengan senyum sabarnya menghampiri si murid. Melihat kedatangan sang guru, si murid pun segera berkata lantang.

“Guru, saya sudah berusaha menimba air, tetapi kelihatannya sumur ini sudah kering. Jika sumur ini tidak ada airnya, mengapa saya diperintahkan untuk mengambil air?”

Sang guru balik bertanya, “Berapa kali kamu menimba?”

Si murid menjawab dengan emosi, “Sudah berkali-kali. Lihar saja bajunu basah kuyup penuh keringat begini!”

Sang guru berkata, “Kalai kamu merasa sumur itu kosong, mengapa harus terus menimba? kami marah ya?. kemarahanmu sampai menutup kesadaran dan akal sehatmu ya?

“Lihat ke sampimng sumur itu, di sana ada keran air. Tinggal dibuka krannya, air pun mengalir. Guru suruh kamu mengambil air di dekat sumur, buka menimba di sumur!”

Seketika wajah si murid memerah, dia pun merasa malu, sekaligus merasa begitu bodoh karena telah membuang energi dan kemarahan tidak pada tempatnya.

“Dari cerita diatas, dengan sibuknya kita mengumbar emosi dan kemarahan, menyalahkan orang lain dan keadaan, tanpa alasan yang jelas dan benar. Karenanya, terkadang kita perlu mendapat “Kesadaran” agar terhindar dari kebodohan dan kesalahan yang tidak bijak. Sehingga tidak perlu ada penyesalan di kemudian hari yang akan membebani lengkah kita ke depan

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed