oleh

Masjid Al Mansur, Peninggalan Kerajaan Mataram yang Masih Berdiri Kokoh di Jakarta

-Sejarah-92 views

Jakarta, Libassnews.com – Masjid Jami al-Mansyur dulunya bernama Masjid Jami Kampung Sawah, merupakan salah satu masjid tua di Jakarta, terletak di Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Pertama kali dibangun tahun 1130H/1717M oleh Abdul Malik putera dari Pangeran Cakrajaya yang sebelumnya bergabung dengan pasukan Mataram menyerang Belanda di Batavia. Sejarah masjid ini tak lepas dari kiprah pahlawan nasional KH. Mohammad Mansyur yang namanya kemudian di abadikan sebagai nama masjid Jami bersejarah ini dan nama jalan yang melintas tak jauh dari masjid ini. Tahun 1980 berdasarkan SK Mendikbud serta SK Gubernur DKI, masjid ini terdaftar sebagai benda cagar budaya

Dibangun oleh Bangsawan Mataram

Pada satu peta abad ke-19, kampung ini disebut Sawah Masjid. Didirikan pada abad 18, tepatnya tahun 1130 H (1717 M), Pembangunan masjid ini dirintis oleh seseorang dari Kerajaan Mataram bernama Abdul Malik, beliau adalah putra dari Pangeran Cakrajaya, yang sebelumnya bergabung dengan Tentara Mataram berperang di Batavia. Hingga dua abad kemudian kegiatan dakwah diteruskan oleh keturunan Abdul Malik, seperti Imam Muhammad Habib, dan ulama-ulama perantau seperti Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin, pengarang kitab Sabilil Muhtadin. Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin inilah yang kemudian memperbaiki letak mihrab masjid. Pembentulan arah kiblat itu diakukan bersama-sama dengan sejumlah ulama lokal pada 2 Rabiul Akhir 1181 H atau 11 Agustus 1767 M.

Kiprah KH. Muhammad Mansyur di Masjid Jami’ Kampung Sawah

Dua abad berikutnya, tanggal 25 Sya’ban 1356H/1937M dibawah pimpinan KH. Muhammad Mansyur bin H. Imam Muhammad Damiri diadakan perluasan bangunan masjid. Berturut kemudian, untuk menjaga terpeliharanya tempat suci serta makam-makam para ulama [di depan kiblat], maka di sekitar masjid dibuatkan pagar tembok [sekarang berpagar besi].

Di masa awal setelah proklamasi kemerdekaan, masjid ini digunakan oleh KH. Muhammad Mansur sebagai tempat mobilisasi pejuang sekitar Tamborauntuk melawan Belanda, Sebuah pertempuran frontal pernah terjadi di muka masjid. Terjadi baku tembak antara pejuang RI yang berlindung di masjid dengan tentara NICA yang kala itu masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa bergeser ke selatan menuju daerah Kota lalu menyebar ke sekitar Tambora.

Baku tembak itu dipicu oleh tindakan berani KH. Mohammad Mansur yang mengibarkan bendera Merah Putih di atas kubah menara masjid ini. Sesudah peristiwa tersebut KH. Muhammad Mansur lalu dipanggil ke Hofd Bureau [Polsek] untuk diadili dan ditahan atas tindakannya itu.

KH. Muhammad Mansur wafat pada tanggal 12 Mei 1967, dan kepengurusan masjid ini dilanjutkan oleh Badan Panitia Kepengurusan Masjid Jami Al-Mansyur hingga sekarang. Sebagai bentuk penghargaan kepada almarhum KH. Muhammad Mansur, pemerintah RI kemudian mengabadikan nama beliau sebagai nama Masjid tempat beliau berjuang ini sekaligus menjadi nama jalan persis di muka Jalan Sawah Lio II, Kelurahan Jembatan Lima.

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed